Alami Jantung Bocor, Namira Aprilia Bocah Usia 3,5 Tahun Asal Sergai Butuh Uluran Pemerintah

42

Namira Aprilia anak usia 3,5 tahun saat terbaring didampingi sang Ayah yang sedang mengalami sakit, Kamis(9/9).(Foto/timenews.co.id)

SERGAI-timenews.co.id| Seorang anak bernama Namira Aprilia (3,5) warga Jalan Bakti, Lingkungan V, Kelurahan Tualang, Kecamatan Perbaungan, Serdangbedagai, Sumatera Utara, butuh uluran bantuan pemerintah.

Pasalnya, Namira menderita penyakit kurang gizi, dan penyakit bawaan sejak lahir yaitu jantung bocor, kromosom rusak, dan platum robek di rongga mulut.

“Kondisinya seperti inilah bang, sekarang usianya sudah 3,5 tahun bobot tubuhnya lambat naik, kata dokter saat diperiksa kurang gizi. Ada juga penyakit bawaannya jantung bocor, kromosom rusak, dan platum robek,” ujar Dian Pramana (35), Kamis (9/9/2021).

Sambung Dian, kondisi anaknya seperti yang sekarang ini, sudah dialami sejak berusia delapan bulan setelah dilahirkan.

Menurutnya, Anak saya mengalami perubahan tubuh pada saat berusia delapan bulan, disitu juga kita tau diagnosa penyakit anak saya ini. Sudah kami bawa berobat. Selama masih di dalam kandungan tidak ada masalah, semua normal-normal saja,” ujar Dian.

“Udah beberapa kali dibawa ke rumah sakit untuk proses penyembuhan. Sekarang ini kalau ada biaya ya ke dokter, kadang ke pengobatan alternatif. Karena hampir setiap berobat biaya pengobatannya sampe satu jutaan,” ujar Dian.

Namun saat disinggung mengenai BPJS Kesehatan anaknya, Dian mengatakan bahwa anaknya sudah terdaftar. Namun, karena membayar iurannya secara mandiri, ia pun tak sanggup lagi membayarnya satu bulan terakhir ini.

“Gak sanggup lagi bang. Jadi belum saya bayarkan satu bulan belakangan ini BPJS anak saya,”sembari Dian dengan rawut wajah sedih.

Dian yang sehari harinya bekerja sebagai berjualan ikan cupang, berdagang bakso bakar,” apa yang bisa saya jual, saya kerjakan. Untuk saat ini berjualan makanan, saya tidak ada modal, karena habis modal untuk makan sehari-hari,” sambungnya.

Sementara itu, saat disinggung bantuan dari pemerintah setempat, pria yang berprofesi penjual ikan cupang ini mengatakan, hanya menerima bantuan pada tahun lalu saja, yaitu berupa beras lima kilo dua karung, dan uang bantuan Covid-19 sebesar Rp 300 ribu.

“Sejak tahun lalu saya menerima bantuan itu, hingga sekarang tidak ada lagi. Saya berharap kepada pemerintah saat ini, keluarkan hak-hak kami warga yang kurang mampu ini, apalagi ini berdampak Covid-19 besar bagi saya bantuan itu.

“Saat ini alasannya masih di proses-proses saja. Belum ada hasilnya yang terbukti. Untuk bantuan PKH belum ada dapat, masih diajukan katanya,” ucap Dian.

Saat ini, Dian juga sedang membutuhkan biaya untuk kebutuhan sekolah anak paling besarnya bernama M Febrian (10).

“Untuk anak pertama saya ini pun saya membutuhkan biaya untuk sekolahnya. Saya berjualan di sekolah, cuma karena PPKM dan Covid-19 saya tidak bisa mendapatkan uang,”ungkap Dian.

Sementara itu, Lurah Tualang, Ewin mengatakan, saat ini keluarga Dian Pramana sudah di masukan ke dalam daftar penerima bantuan.

“Langkah selanjutnya akan kita berikan perhatian ekstra, dalam arti kita akan merujuk ke RSUD Sultan Sulaiman. Kebetulan disitu tersedia dokter ahli jantung, jadi tidak perlu lagi orangtua si anak ini berobat ke Kota Medan,” ujar Ewin.

“Saya sudah berkoordinasi, jamkesda sedang kita urus dan secepatnya akan dirujuk ke RSUD Sultan Sulaiman,”pungkas Ewin.(red)