Menpora Amali Jelaskan Terkait Kesiapan Indonesia Jadi Tuan Rumah Asean Para Games 2022 ke Komisi X DPR RI

107

Menpora Amali memberikan penjelasan terkait kesanggupan Indonesia menjadi tuan rumah ASEAN Para Games 2022 menggantikan Vietnam. Keterangan secara lugas dan tuntas itu disampaikan pada saat menjawab pertanyaan pada Raker bersama Komisi X DPR RI, di Gedung Nusantara I Senayan Jakarta Pusat, Rabu (23/3). (foto:egan/kemenpora.go.id)

JAKARTA, Menpora Amali memberikan penjelasan terkait kesanggupan Indonesia menjadi tuan rumah ASEAN Para Games 2022 menggantikan Vietnam. Keterangan secara lugas dan tuntas itu disampaikan pada saat menjawab pertanyaan pada Raker bersama Komisi X DPR RI, di Gedung Nusantara I Senayan Jakarta Pusat, Rabu (23/3).

Kesanggupan menjadi tuan rumah dengan tempatnya di Jawa Tengah itu karena sebenarnya berawal dari ketidaksiapan Vietnam dan negara-negara lain, sehingga ASEAN Para Sports Federation yang menaungi ASEAN Para Games menunjuk Indonesia.

“Perlu saya sampaikan bahwa ini benar-benar adalah keputusan APSF (ASEAN Para Sports Federation). Jadi supaya tidak salah ya, tetapi arahan Bapak Presiden karena kita sudah terlanjur ditunjuk, kemudian ini menyangkut olahraga disabilitas maka kita harus sanggup dan arahan beliau carikan dananya kepada Menteri Keuangan,” tegas Menpora Amali.

Penempatan di Solo atau Surakarta juga bukan tanpa alasan mendasar. APSF mempertimbangkan karena 2011 sudah pernah menjadi tuan rumah dan dipandang sukses.

“Dan itu tidak hanya di Solo atau Surakarta, tapi juga Sukoharjo, dan Karanganyar, makanya kami menamakannya di Jawa Tengah,” ucapnya.

“Kemudian ini juga saya klarifikasi yang bertanggung jawab langsung Menpora, pemerintah setempat membantu Menpora. Ini kan tersiar kabar langsung ketuanya Walikota Surakarta, itu tidak. Jadi ini benar-benar kita (Indonesia) bersedia,” tegasnya.

Selain penegasan di atas, dalam hal pembinaan memang even ini sangat diperlukan. Karena atlet para games bisa dua kali tertunda kalau tidak dilakukan di Indonesia, yakni dua kali di Manila dan Vietnam mereka tidak mendapatkan kesempatan.

“Maka kita harus berikan wadah untuk bertanding untuk berkompetisi karena Paralimpiade Paris itu sudah menunggu. Jadi sekali lagi ini adalah kebaikan hati kita karena negara-negara lain tidak ada yang sanggup, meskipun ada Malaysia tetapi negara-negara ASEAN lainnya lebih condong ke Indonesia karena kita sudah punya pengalaman di Asian Para Games 2018 dan ASEAN Para Games 2011,” jelasnya lagi.

Kenapa pilihannya di Solo, karena memang training camp untuk atlet-atlet disabilitas itu memang selama ini dipusatkan di sana, karena sarana pendukungnya ada. Ada RS dr Suharso untuk rehabilitasi dan lain sebagainya dan ada UNS.

“Jadi ini sekali lagi penempatan, terus kita menjadi tuan rumah tidak ada hubungannya dengan Walikota Surakarta apalagi dengan Presiden karena ketuanya langsung Menpora, jadi ini menjadi informasi yang clear,” penegasan kembali Menpora.

Perhatian pemerintah terhadap olahraga disabilitas bukan saja pada saat ada even saja. Semua setara, dan perlu diketahui bahwa atlet-atlet para games juga berada pada pembinaan prestasi. Pada Perpres No 86 tentang Desain Besar Olahraga Nasional target kita 100 tahun Indonesia merdeka pada 2045, tepatnya pada Olimpiade/Paralimpiade 2044 target sama yakni peringkat 5 dunia. “Training camp juga akan dibangun lengkap di Karanganyar sama dengan yang di Cibubur untuk non disabilitas,” tutupnya.(Red)

Sumber:Kemenpora.go.id