Panen Padi Perdana di Sei Rampah, Nazli Hasbani Sebut Lebih Baik Menanam Padi Ketimbang Menanam Pangan, tidak Menentu

91

Lokasi Persawahan milik Masyarakat Desa Sei Parit Kecamatan Sei Rampah, Sergai melaksanan panen padi perdana, Selasa(21/9). (Foto: Agus/ timenews.co.id).

SERGAI- timenews.co.id| Sebagai rasa syukur masyarakat Desa Sei Parit Kecamatan Sei Rampah Kabupaten Serdang Bedagai mengadakan panen padi perdana pada 290 hektar lahan pertanian sawah padi di Dusun 1 Tapian Nauli Desa Sei Parit Kecamatan Sei Rampah.

Dijelaskan Nazli Hasbani, SP Pimpinan Penyuluh Pertanian Kecamatan Sei Rampah, Selasa (21/9/2021) bahwa sudah 10 tahun lebih masyarakat Desa Sei Parit Kecamatan Sei Rampah tidak melakukan bercocok tanaman padi pada 311 hektar sawah

“Ini adalah kali kedua kami melakukan bercocok tanam pangan padi, yang sebelumya masyarakat Desa Sei Parit melakukan bercocok tanam pangan yang tidak menentu, seperti tanaman pangan ubi kayu, jagung, serta tanaman palawija,”ujar Nazli

Dirinya juga menjelaskan alasan mengapa selama 10 tahun tidak bercocok tanam pangan padi, “10 tahun lebih kami tidak bercocok tanam pangan padi, sebab irigasi skunder mengalami kendala, atau jebol, namun kini irigasi skunder pembagian aliran Sei blutu telah mengalami perbaikan, sehingga kami dapat kembali bercocok tanam pangan padi”, sebutnya.

Dilanjutkan nya bahwa Peralihan ini tidak terlepas dari bantuan Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat dengan Program Perluasan Areal Tanaman Baru (PATB) yang membagikan bibit, Pupuk dan herbisida secara gratis kepada Masyakarat Desa Sei Parit Kecamatan Sei Rampah

Dalam kesempatan itu, Nazli menyebutkan bahwa mereka menargetkan pada panen musim kedua ini mencapai sebanyak 250-300 kg/rantai yang sebelumnya pada panen musim pertama hanya mencapai 180 kg/rantai

Dalam kesempatan itu, Rumapea dan beberapa masyarakat lainnya mengucapkan terimakasih kepada Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah atas dukungannya dalam peralihan bercocok tanam pangan

Dirinya menjelaskan bahwa pada 2008 mereka sudah mulai mengalami kesulitan air yang disebabkan jebolnya tanggul skunder, namun selama 2 tahun mulai 2008 hingga 2010 mereka masih melakukan upanya bercocok tanam pangan padi menggunakan alat pompa air seadanya

Rumapea beralasan hasil yang tinggi, sehingga masyarakat melakukan peralihan tanaman pangan tidak menentu menjadi tanaman pangan padi, “Jelas dong lebih baik dan menguntungkan menanam padi ketimbang menanam pangan tidak menentu”.(Gus)