Peras Kontraktor PUPR, Oknum Ketua Ormas di Sergai Ditangkap Polisi

147

Salah satu oknum Ketua Ormas di Kecamatan Pantai Cermin, AK diamankan Polisi terkait kasus pemerasan terhadap kontraktor PUPR.(Foto.istimewa).

SERGAI- timenews.co.id| Satuan Reserse Kriminal Polres Serdang Bedagai mengamankan oknum ketua Ormas berinisial AK (35) warga Kecamatan Pantai Cermin, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, dalam kasus pemerasan.

Informasi yang diperoleh, AK ditangkap dalam kasus tindak pidana pemerasan kepada salah satu Kontraktor PUPR yang bekerja sebagai pelaksana proyek jalan, tepatnya di Pasar Rakyat Desa Pantai Cermin Kanan, Kecamatan Pantai Cermin, Sergai. Jumat(8/10) lalu.

” Penangkapan AK atas laporan korban berinisial TSD (28) berkerja Dinas PU, warga Lingkungan II Kelurahan Tebing Tinggi Kecamatan Padang Hilir, Kota Tebing Tinggi dengan LP /B / 663 / X / 2021 /SPKT /POLRES SERGAI / POLDA SUMUT, Tanggal 28 September 2021,”ujar Kapolres Sergai AKBP Robin Simatupang melalui Kasat Reskrim AKP Deny Indrawan Lubis, Rabu(13/10).

” Kronologis penangkapan terduga pelaku pemerasan pada hari Selasa (28/9/2021) dengan pelapor inisial TSD selaku kontraktor dengan menurunkan alat berat untuk melaksanakan proyek pengerjaan aspal jalan,”ungkap Deny

AK yang merupahkan oknum Ketua salah satu Ormas meminta ikut serta dalam kegiatan pekerjaan untuk menjaga alat berat untuk meratakan tanah jalan karena akan dilakukan pengaspalan.

“Setelah pekerjaan meratakan tanah selesai dilaksanakan bahwa tersangka diberikan gaji dengan upah yang dibayarkan pelapor sebesar Rp 750.000,00 (tujuh ratus lima puluh ribu rupiah),”ujarnya.

Namun sambung AKP Deny. Setelah pelapor akan membawa alat berat tersebut namun tidak diizinkan oleh tersangka dan tersangka kembali meminta uang kepada pelapor sebesar Rp 2.000.000,00 (dua juta rupiah).

Namun pelapor hanya memberikan uang sebesar Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah),”imbuhnya.

” Pada tanggal 8 Oktober 2021 pada sekira pukul 14:00WIB, tersangka kembali meminta uang kepada pelapor untuk biaya konpensasi atau uang keamanan ormas sebesar Rp 7.000.000,00 (tujuh juta rupiah).

Namun pelapor menawarkan uang sebesar Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah) tapi ditolak tersangka dan pelapor menawarkan uang sebesar Rp 3.000.000,00 (tiga juta rupiah) tapi juga ditolak oleh tersangka,”ujarnya.

Oleh karena itu, tersangka mengancam pelapor apa bila tidak menyerahkan uang sebesar Rp 7.000.000,00 (tujuh juta rupiah) maka pekerjaan tidak bisa dilaksanakan,”kata AKP Deny.

Selanjutnya, tersangka AK melakukan ancaman kekerasan terhadap pelapor dengan mengatakan apabila tidak memberikan uang maka tidak
bisa dilakukan pengerjaan pengaspalan jalan dan tidak akan aman pengerjaan pengaspalan dimaksud.

Setelah menyerahkan uang sebesar Rp 5.000.000,00 (limajuta rupiah) kepada tersangka. Akhirnya tersangka kami amankan.

“Atas perbuatannya, tersangka terjerat Pasal 368 KUHP dengan ancaman hukuman penjara selama-lamanya 9 tahun,”pungkasnya.*