Protes Dampak Abu, Puluhan Emak-Emak Di Batu Bara Hadang Truk Proyek

106

Truk proyek saat di hadang puluhan emak emak warga Batubara.(ist)

BATUBARA, Timenews.co.id| Puluhan emak-emak nekat menghadang truk yang keluar masuk jalan desa mereka menuju kilang pemecah batu di Desa Petatal Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara (Sumut). Mereka protes atas dampak abu, Senin (17/1/2022).

Warga yang didominasi kaum
ibu ini berkumpul di tengah jalan dengan membawa sejumlah poster berisikan kecaman terhadap dampak abu dan telah mengganggu kesehatan mereka.

Aktivitas kilang batu itu, disebut bagian dari proyek pembangunan jalan tol Tebing Tinggi – Kisaran.

“Kalau adanya pembangunan di sini kami dukung. Tapi kami tak mau debu, masyarakat kami sekarang sudah banyak terdampak kesehatannya, anak – anak yang batuk, ISPA, itu terjadi sudah lama. Kami sudah berulang bilang ke perusahaan ini tapi tak ditanggapi jadi ibu-ibu di sini melakukan demo,” kata Zulfian (40) salah seorang warga desa.

Selain melakukan pengadangan dan memaksa truk berhenti, emak-emak itu kemudian mendatangi pintu masuk kilang dan berharap tuntutannya tersampaikan.

“Kami lihat adanya aktifitas perusahaan di sini semena-mena terhadap masyarakat. Tidak memikirkan kesehatan masyarakat. Kami bukan menolak adanya pembangunan di sini tapi masyarakat jangan dikasi abu,” ujarnya.

Di lokasi, warga hanya berdebat dengan petugas keamanan kilang batu. Mereka berjanji akan menyampaikan tuntutan masyarakat tersebut kepada pimpinannya.

Terpisah, Plt Kepala Desa Petatal Helda dikonfirmasi wartawan memaklumi keresahan warganya itu atas aktivitas kilang batu tersebut. Pihaknya mengatakan sebelumnya juga sudah pernah menyampaikan persoalan ini ke perusahaan.

“Kalau aktiviasnya itu sudah ada satu tahun setengah. Tapi lima bulan terakhir ini memang semakin parah, karena pabriknya memang dekat dengan permukiman masyarakat,” kata Hilda.

Mewakili pemerintahan Desa Petatal kata Hilda sebenarnya pihaknya telah menyampaikan keluhan warga tersebut ke perusahaan namun belum mendapat respon.

“Saya sampaikan ke perusahaan, masyarakat di sini bagus mereka tidak menolak proyek itu. Tapi kalau kehadiran perusahaan itu banyak ruginya untuk masyarakat untuk apa mereka di sini, bagus ditutup saja,” ujarnya.

Kata Hilda, pasca demo yang dilakukan warga pihaknya sudah berkomunikasi kembali dengan perusahaan agar meminimalisir dampak abu.

“Solusinya itu pihak pabrik melakukan penyiraman secara terus menerus di jalan pemukiman warga minimal itu dulu dilakukan,” kata dia.(red/MS10/)